SKABIES
A. Epidemiologi
Skabies
merupakan penyakit kulit akibat infestasi dan sensitisasi yang disebabkan
parasit obligat Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya di
epidermis.1,2 Skabies ditemukan di seluruh dunia dengan
prevalensi yang bervariasi. Prevalensi skabies di negara berkembang sebesar
6-27%. Di Indonesia prevalensi skabies mencapai 4,60-12,95%.3 Banyak
faktor yang memengaruhi angka kejadian skabies antara lain kepadatan penduduk
dan higienitas. Di lingkungan yang padat penduduk, angka prevalensi skabies
lebih tinggi dibandingkan lingkungan yang lebih renggang. Angka prevalensi di
lingkungan higiene buruk mencapai 63%, sedangkan pada kelompok dengan higiene
baik hanya berkisar 2-3%.4 Skabies dapat mengenai berbagai
kelas sosioekonomi. Cenderung lebih banyak terjadi di daerah perkotaan yang
padat penduduk. Kepadatan penduduk sangat berpengaruh dalam peningkatan insiden
dan penyebaran sarcoptes scabiei.1Skabies biasanya menjadi
wabah di komunitas yang tinggal berkelompok seperti pesantren, panti asuhan,
penjara, dan pengungsian. Penyebaran tungau biasanya melalui kontak personal
dari pasien ke orang lain maupun secara tidak langsung melalui peralatan yang
digunakan secara bersama.
B. Etiologi
Sarcoptes
scabiei merupakan arthropoda dari ordo Acarina yang pertama kali
ditemukan sekitar tahun 1600.1Skabies berasal dari bahasa latin scabere yang
berarti menggaruk. Sarcoptes scabiei berukuran kecil dan berbentuk
oval dengan punggung yang cembung dan perut yang datar. Tungau berwarna putih
kecokelatan translusen dengan empat pasang kaki pada tungau dewasa. Tungau
jantan memiliki ukuran 0,2-0,24 x 0,25-0,35 mm, sedangkan tungau betina
memiliki ukuran yang lebih besar berkisar 0,4 x 0,3 mm.5,6
Sarcoptes
scabiei melakukan kopulasi di atas kulit. Setelah dibuahi, tungau betina
akan membuat terowongan di lapisan epidermis stratum korneum sepanjang 1-10 mm
dan meletakkan 2-4 butir telur sehari sampai mencapai 40-50 butir di sepanjang
terowongan.2 Dalam satu terowongan dapat mencapai 10-25 butir
telur.2Setelah bertelur, tungau betina akan mati sampai dalam waktu
sekitar 1-2 bulan. Telur akan menetas dalam 3-4 hari kemudian dan menjadi larva
yang memiliki 3 pasang kaki. Larva selanjutnya menemukan folikel rambut sebagai
tempat makan dan berganti kulit menjadi nimfa setelah 2-3 hari yang memiliki 4
pasang kaki.Sarcoptes scabiei membutuhkan waktu 8-12 hari untuk berubah
dari telur sampai dewasa. Sekitar 10% telur akan menjadi bentuk dewasa. Tungau
betina berkopulasi dengan jantan sekali untuk melanjutkan siklus hidupnya. Pada
pasien skabies, dapat ditemukan sekitar 10-15 tungau.7,8
C. Patogenesis
Kelainan
kulit akibat infestasi Sarcoptes scabiei dapat berupa papul, vesikel,
urtika, dsb. Juga dapat ditemukan erosi dan ekskoriasi akibat garukan pasien. 1,2 Gatal
merupakan keluhan subjektif utama pada pasien skabies akibat sensitisasi
terhadap tungau dan produknya yang dirasakan setelah 6-8 minggu setelah
infestasi primer.1Pada pasien yang sebelumnya telah mengalami
infestasi primer, gejala biasanya muncul 1-3 hari pada infestasi yang kedua dan
berikutnya karena pasien telah membentuk sistem imun.9,10
D. Gejala
Klinis
Gatal
merupakan keluhan subjektif pasien skabies.1,2 Gatal biasanya
dirasakan paling hebat pada malam hari karena suhu lebih tinggi sehingga
aktivitas tungau meningkat.2 Gatal tersebut diakibatkan
sensitisasi kulit terhadap tungau maupun produknya seperti telur, kotoran, dan
sekret. Garukan pasien dapat menimbulkan luka pada kulit dan dapat memicu
terjadinya infeksi sekunder. Bila terjadi infeksi sekunder, dapat menimbulkan
pus dan pembesaran kelenjar getah bening. Lesi tampak kemerahan, bersisik,
berupa papul, nodus, kadang timbul krusta. Predileksi skabies biasanya di kulit
yang tipis seperti di sela-sela jari, lateral palmar, pergelangan tangan bagian
volar, siku luar, umbilikus, lipat aksila, bokong, perut bagian bawah, skrotum,
penis, labia, dan areola mame. Pada anak dibawah 2 tahun, infestasi dapat terjadi
pada wajah dan kulit kepala, jarang terjadi pada orang dewasa. Kadang terdapat
erupsi eritematosa pada batang tubuh akibat garukan oleh penderita yang
mengalami reaksi hipersensitifitas terhadap antigen Sarcotes scabiei.
Gejala
khas pada skabies adalah terdapat terowongan tipis seperti benang, sedikit
meninggi, lurus atau berkelok dengan panjang 1-10 mm.1 Terowongan
terbentuk akibat pergerakan tungau ke dalam stratum korneum secara horizontal.1 Namun,
terowongan sulit ditemukan pada infestasi awal tungau dan pada kulit dengan
ekskoriasi akibat garukan. Diujung terowongan biasanya terdapat nodul atau
vesikel. Nodul dapat tetap terlihat beberapa minggu walaupun berbagai stadium Sarcoptes
scabiei tereradikasi.1 Jika terjadi infeksi sekunder, lesi
tampak polimorf. Skabies mudah menyebar sehingga mewabah di dalam satu
komunitas, misalnya dalam satu keluarga, barak tentara, penjara. Diagnosis
pasti skabies adalah menemukan tungau atau telur Sarcoptes scabiei menggunakan
mikroskop.
E. Diagnosis2
Diagnosis skabies dibuat atas
dasar anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1.
Anamnesis
Menurut Raharyani (2009), pada
anamnesis hal yang perlu ditanyakan antara lain:
-
Identitas pasien
Berupa
nama, usia, pekerjaan, sosioekonomi, dan kebersihan. Sarcoptes scabie dapat
menyerang semua kelompok usia baik dewasa maupun anak dan dapat mengenai semua
golongan sosioekonomi namun lebih sering terjadi pada golongan dengan tingkat
sosioekonomi yang rendah. Pekerjaan perlu dikaji untuk menilai faktor risiko
skabies. Tempat yang paling sering mengalami skabies adalah di lingkungan yang
kebersihannya kurang dan padat penduduk seperti asrama, penjara, panti asuhan
dsb.
-
Keluhan Utama
Gatal merupakan keluhan subjektif
utama pada penderita skabies. Gatal dirasakan memberat pada malam hari. Keluhan
objektif dapat berupa kelainan kulit seperti bintil merah.
-
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien biasanya mengeluh gatal
yang dirasa memberat di malam hari dan timbul kelainan di kulit yang tipis
seperti sela-sela jari tangan, lipat ketiak, areola mame, bokong, atau perut
bawah. Dapat juga ditemukan lesi tambahan seperti erosi dan ekskoriasi akibat
garukan sehingga menimbulkan gambaran yang bermacam-macam.
-
Riwayat penyakit keluarga
Pada skabies biasanya ditemukan
anggota keluarga lain, partner, tetangga, dan teman yang kontak dengan pasien
mengalami keluhan dan gejala yang sama.
-
Kebiasaan
Skabies dapat terjadi akibat
hygiene yang buruk seperti kebiasaan mandi, mencuci tangan, penggunaan pakaian.
Pada anamnesis perlu digali mengenai pola kebersihan pribadi, keluarga, maupun
lingkungan sekitar.
2.
Pemeriksaan fisik
Skabies
disebut the great immitator karena kelainan dapat menyerupai penyakit
yang lain. Lesi kulit polimorfik menyerupai dermatitis dan reaksi alergi
lainnya. Namun demikian, sebagian kasus skabies didiagnosis dengan deskripsi
kelainan kulit di tempat predileksi.
3.
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis
pasti skabies adalah dengan identifikasi tungau dan telur Sarcoptes
scabiei dengan pemeriksaan mikroskop.2 Sediaan dibuat
dengan kerokan kulit pada lesi dengan menggunakan skapel atau dengan biopsi
yang dilakukan secara superfisial. Kerokan dilakukan di ujung kunikulus yang nampak
papul atau vesikel. Hasil kerokan diletakkan di atas gelas objek dan ditutup
dengan gelas penutup lalu periksa di bawah mikroskop. Hasil pemeriksaan positif
bila ditemukan tungau, telur, nimfa, atau skibala Sarkoptes scabiei. Namun
pemeriksaan ini memiliki sensitifitas yang rendah karena tungau sulit
ditemukan. Tes tinta Burrow dilakukan untuk melihat kunikulus yang dibentuk
oleh tungau. Lesi dilapisi dengan tinta pena kemudian hapus dengan alkohol.
Terowongan akan terlihat seperti garis tipis lurus atau berkelok. Terlihat
lebih gelap akibat tinta yang masuk ke dalam kunikulus.
Gambar 4: Kunikulus
Diagnosis dapat dibuat dengan
menemukan 2 dari 4 tanda kardinal skabies sebagai berikut:
1. Pruritus nokturnal, yakni gatal
pada malam hari karena terjadi peningkatan aktivitas tungau.
2. Menyerang manusia secara
berkelompok
3. Ditemukan terowongan (kunikulus)
pada tempat predileksi
4. Ditemukan tungau pada kulit
pasien
F. Diagnosis
banding
Skabies
dikenal sebagai the great immitator karena memiliki gejala berupa
gatal yang menyerupai penyakit kulit yang lain. Sebagai diagnosis banding yang
menyerupai skabies adalah prurigo, dermatitis, reaksi gigitan serangga,
pedikulosis korporis. Juga dapat dipertimbangkan psoriasi, pemfigoid bulosa,
erupsi obat.1,2
1. Prurigo
Prurigo memiliki gejala yang
hampir sama dengan skabies. Lesi berbentuk papul dan vesikel dan menimbulkan
gatal. Namun biasanya predileksi pada ekstensor ekstremitas. Hal ini membedakan
predileksi skabies yang cenderung mengenai kulit yang tipis seperti di
sela jari tangan, pergelangan tangan, area genital, lipat aksila dsb.
1. Insect Bite
Morfologi
kelainan kulit hampir sama dengan skabies berupa urtikaria papuler setempat di
sekitar tempat gigitan.2 Pada insect bite, lesi timbul
setelah terjadi gigitan serangga.
1. Pedikulosis korporis
Pasien biasanya mengeluh rasa
gatal. Gatal disebabkan pengaruh liur dan ekskret kutu ketika menghisap darah.
Kelainan pada kulit biasanya berupa bekas garukan.
G. Tata
laksana
Banyak
faktor yang memengaruhi efektivitas pengobatan skabies seperti usia, biaya
pengobatan, tingkat keparahan lesi, dan kegagalan pengobatan sebelumnya.1 Prinsip
pemilihan obat skabies adalah obat harus efektif membasmi semua stadium tungau,
tidak menimbulkan iritasi pada kulit dan tidak bersifat toksik, pengobatan
dilakukan pada seluruh anggota keluarga atau partner.2 Obat
topikal pada orang dewasa diaplikasikan di seluruh permukaan kulit terutama
sela jari, area genital, dan belakang telinga, kecuali daerah wajah dan kulit
kepala. Pada pasien anak dan skabies dengan krusta, area wajah dan kulit kepala
juga harus diobati.1 Gatal yang sangat hebat merupakan
karakteristik skabies, dapat dikurangi dengan penggunaan antihistamin seperti
diphenhydramine, hydroxyzine, cetirizine, dan promethazine. Gatal dan ruam
dapat menetap sampai 2 minggu setelah eradikasi tungau sehingga perlu edukasi
kepada pasien mengenai pengobatan untuk menghindari pemakaian obat yang
berlebihan.
1. Permetrin
Permetrin
5% dalam bentuk sediaan krim digunakan sebagai pengobatan skabies pada pasien
berusia lebih dari 2 bulan.2 Permetrin bekerja pada sistem
saraf tungau. Permetrin bekerja pada kanal natrium dan mengganggu fungsi saraf
sehingga terjadi spasme dan kematian tungau. Aplikasi permetrin hanya sekali
dengan cara dioleskan di seluruh permukaan tubuh mulai dari leher sampai sela
jari kaki lalu dibersihkan 8-10 jam kemudian.2
2.
Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam sediaan salep atau krim
Belerang
endap tidak efektif terhadap Sarcoptes scabiei stadium telur. Salep
dioleskan ke seluruh kulit tubuh setelah mandi setiap 24 jam. Penggunaanya
tidak kurang dari 3 hari. Belerang endap dapat digunakan pada bayi yang berusia
kurang dari 2 tahun. Keuntungan belerang sulfur adalah harganya murah. Namun
belerang sulfur menimbulkan bau yang tidak enak dan mengotori pakaian. 2
3. Emulsi
benzil-benzoas 20-25%
Benzil
benzoat merupakan ester asam benzoat dan alkohol benzil. Dapat digunakan pada
seluruh stadiumSarcoptes scabiei dengan bekerja sebagai neurotoksik.
Dipakai selama 3 hari.2 Emulsi benzil-benzoat dapat menyebabkan
dermatitis iritan sehingga pemakaiannya tidak boleh berlebihan. Obat ini
dikontraindikasikan pada anak usia di bawah 2 tahun dan pada wanita hamil atau
menyusui.
4. Gama
Benzena Heksa Klorida 1%
Gama
Benzena Heksa Klorida 1% dalam sediaan krim atau losio efektif terhadap semua
stadium tungau. Penngunaanya tidak boleh pada anak usia di bawah 6 tahun dan
wanita hamil karena bersifat toksik terhadap susunan saraf pusat. Aplikasi
hanya sekali dari leher sampai ke ujung kaki lalu dicuci bersih. Dapat diulang
seminggu kemudian apabila masih terdapat gejala.2 Efek samping
yang dapat ditimbulkan pada sistem saraf pusat berupa kejang, sakit kepala,
mual, pusing, muntah, gelisah, tremor.
4. Krotamiton
10% dalam krim dan losio
Krotamiton
memiliki efek antiskabies dan antigatal. 2 Aplikasi
sebanyak dua kali sehari selama 5 hari berturut-turut dari leher sampai ke
bawah. Penggunaan krotamiton dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan
iritasi.
5.
Ivermektin
Ivermektin
merupakan obat skabies oral dengan efektivitas tinggi. Struktur ivermektin
mirip dengan antibiotik golongan makrolid, namun tidak memiliki sifat
antibakteri. Ivermektin saat ini digunakan sebagai pengobatan onchocerciasis
dan strongyloides. Pada invertebrata, ivermektin menghalangi kanal yang
menggunakan y-aminobutyric acid. Akibatnya menyebabkan paralisis dan kematian
pada invertebrata. Pada mamalia, reseptor ini ditemukan di sistem saraf pusat.
Pada keadaan normal, obat tidak akan menembus barier otak. Namun dapat masuk
bisa barier rusak. Penggunaannya tidak boleh pada anak dibawah 5 tahun dan pada
anak dengan berat badan kurang dari 15 kg, selama kehamilan dan menyusui. Dosis
yang digunakan 200 ug/kg diulang 10-14 hari. Efek samping ivermektin biasanya
ringan. Dapat menyebabkan hipotensi, edema laring, enselopati namun jarang
terjadi.1
H. Prognosis
Prognosis
skabies tergantung dari pemilihan obat, pemakaian obat, faktor predisposisi.2 Prognosis
baik bila pengobatan dilakukan secara benar dan faktor predisposisi
dihilangkan. Namun apabila penyakit tidak diobati dengan benar dan faktor
predisposisi masih ada seperti higinitas yang buruk, gejala akan bertahan
bertahun-tahun.1
I. Pencegahan
Individu
yang dekat dengan pasien harus menjalani pengobatan antiskabies secara
serentak. Untuk mencegah penularan kembali, tempat tinggal atau rumah harus
dibersihkan. Seprai, sarung bantal, handuk, pakaian dicuci dengan air panas dan
dijemur dibawah matahari.1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar